On This Day, December 16

December 16, 2017 § Leave a comment

1770

Ludwig Van Beethoven was born in 1770.

Portrait of Ludwig van Beethoven when composing the Missa Solemnis, Joseph Karl Stieler (1781–1858), 1820

Portrait of Ludwig van Beethoven (1770–1827) when composing the Missa Solemnis, Joseph Karl Stieler (1781–1858), 1820. Source: Wikimedia Commons.

Beethoven’s music is all the more amazing because he wrote so much of it when he was almost or totally deaf. At the end of the premiere of the Ninth Symphony, the composer had to be turned around to see the ovation he could not hear.

Beethoven Symphony #9 in D minor Opus 125, 4th movement. Leonard Bernstein, Vienna Philharmonic Orchestra.

If you’re going to write a big symphony, you might as well make it the biggest one ever composed (at the time). And if you’re going to make it about something, you might as well make it about the triumphant union of mankind. No pressure, then. Beethoven’s final symphony is a beast, but arguably the most rewarding of all of them. Listen to how the opening of the first movement turns from aimless wandering to mammoth crashes, the skipping strings in the second and the choral splendour of the finale… Everywhere you look in this epic symphony there’s something to enjoy. So as you stand on the sofa, shouting along with the Ode To Joy and knocking your cup of tea over, remember that all this noise was made by someone who was, by this point, almost entirely deaf.

(Source: Classic FM)

———
Where to start with Beethoven’s symphonies? It’s tempting to think it’s just too much effort to plough through all of them, but with our handy symphony-by-symphony guide, you can listen out for the important bits and really get the most out of these monumental works. Let’s start at the beginning… » Beethoven’s Symphonies: Where To Start

Advertisements

Dari Bunyi ke Kata, Panduan Praktis Menulis Tentang Musik

December 15, 2017 § Leave a comment

4

Judul: Dari Bunyi ke Kata, Panduan Praktis Menulis Tentang Musik
Penulis: Erie Setiawan
Cetakan: I, 2017
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 110 halaman
Penerbit: Art Music Today
Harga: Rp. 50.000,- (baru, di luar ongkos kirim)

Tentang buku ini:

  • Buku pertama di Indonesia yang membahas bagaimana menulis tentang musik.
  • Berisi tidak hanya sekadar tips praktis, tapi disertai kunci-kunci pendalaman wawasan teoritik.
  • Membantu siapa-saja: baik jurnalis, mahasiswa, dosen, atau masyarakat umum yang ingin menulis tentang musik sesuai kaidah jurnalistik dan ilmu musik.

“Salah satu bukti material yang menjadi acuan sejarah bangsa adalah tulisan. Ini juga berlaku untuk sejarah musik. Erie bersama Art Music Today, yang telah lebih dari sewindu bergelut dengan bidang musik dan penulisan, melihat lemahnya dokumentasi musik di Indonesia. Lewat buku ini Erie mengajak kita belajar bagaimana menulis segala sesuatu tentang musik dengan teknik yang tepat. Sebuah pedoman praktis yang juga bermanfaat bagi kami.” —Hengki Herwanto, Museum Musik Indonesia

“Harapan saya atas terbitnya buku ini adalah mampu memberikan pencerahan, khususnya bagi para jurnalis musik untuk memahami kinerja mereka dalam menulis tentang musik, supaya tidak asal-asalan. Dan yang pantas diingat, bahwa musik itu bukan sekadar hiburan, melainkan bisa menjadi media kontemplatif.” —Denny Sakrie, alm., Pengamat Musik

 

 

Mendengar di Bali, Sebuah Buku Harian Bunyi

December 14, 2017 § Leave a comment

2

Judul: Mendengar di Bali, Sebuah Buku Harian Bunyi
Penulis: Gardika Gigih Pradipta
Cetakan: I, 2017
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 178 halaman (Hard Cover)
Penerbit: Art Music Today
Harga: Rp. 120.000,- (baru, di luar ongkos kirim)

Buku ini adalah catatan harian komponis-pianis Gardika Gigih selama 31 hari tinggal di Bali (Juli–Agustus 2017). Setiap hari tanpa henti ia mencatatkan pengalaman kreatifnya, mulai dari mengunjungi sanggar, menonton pertunjukan gamelan, aktifitas rekaman musik, hingga impresi-impresi atas karya musik yang ia dengar dengan dilengkapi data historis yang informatif. Buku ini adalah buku Gardika Gigih yang kedua, setelah Merindukan Awajishima (2016), yang menceritakan proses kreatif bermusik selama di Jepang.

Buku terkait: Musik untuk Kehidupan, oleh Erie Setiawan.

Filosofi Pendidikan Musik, Kritik dan Renungan

December 14, 2017 § Leave a comment

3

Judul: Filosofi Pendidikan Musik, Kritik dan Renungan
Penulis: Erie Setiawan
Cetakan: I, 2017
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: xiv + 174 halaman
Penerbit: Art Music Today
Harga Rp. 59.000,- (baru, belum termasuk ongkos kirim)

Sejak dekade 1950-an hingga kini, pendidikan musik di Indonesia telah berkembang sedemikian rupa. Namun, bukan hal yang mudah untuk menghadapi tantangan-tantangan yang terjadi. Pendidikan musik di Indonesia belum memiliki identitas yang kuat, landasan filosofis yang kokoh, dan belum bisa dikatakan maju. Secara kritis, buku ini mengurasi abstraksi atas permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam dimensi filosofis. Menjadi renungan bersama demi menuai asa di masa selanjutnya.

Musik untuk Kehidupan

December 11, 2017 § 1 Comment

1
Judul: Musik untuk Kehidupan (Kumpulan Tulisan)
Penulis: Erie Setiawan
Cetakan: I, 2016
Ukuran: 14 x 21 cm
Tebal: 204 halaman
Penerbit: Art Music Today
ISBN: 978-602-1268
Harga: Rp. 50.000,- (baru, di luar ongkos kirim)

Buku ini memuat 50 esai dengan dilengkapi prosa untuk menggambarkan berbagai fakta musik atas kaitannya makna-makna bagi kehidupan manusia. Ditulis dalam rentang 1 tahun (2015-2016), buku ini adalah lanjutan dari seri Short Music Service yang dicanangkan Erie sebagai memoar kumpulan tulisan-tulisan musiknya. Musik Untuk Kehidupan adalah Seri Short Music Service yang keempat, setelah Refleksi Ekstramusikal Dunia Musik Indonesia (2008), Memahami Musik dan Rupa-rupa Ilmunya (2014), dan Intuisi Musikal (2015).

“Seandainya musik bukan bagian dari nafas-nafas kehidupan individual, kehidupan sosial, dan kehidupan kebudayaan, maka musik di Indonesia sudah lama mati, dan Erie Setiawan, melalui bukunya ini, mengingatkan kita akan hal itu.” —Rizaldi Siagian, Etnomusikolog

“Pikiran Erie melengkapi dan mencari-menemukan pasca perspektif era Dungga, Amir Pasaribu, Suka Hardjana, Remy Sylado, dan sekian esais kolom cetak kertas koran mapan. Kuota dimensi musikal Erie beda tajam melebihi mitos musikolog, komposer, instrumentalis dan operator non-digital, rekayasawan industri, pra online, dan hantam kromo. Erie punya ketekunan berharga, dan buku ini penting bagi generasinya.” —Sutanto Mendut, Budayawan

 

Membaca Musik dari Masa ke Masa: Katalog Literatur Musik Berbahasa Indonesia dalam Lima Dekade

November 26, 2016 § Leave a comment

Cover Design - MEMBACA MUSIK DARI MASA KE MASA#2.cdr

“Dalam buku, lebih tepatnya katalog yang dikemas dengan esai singkat
ini, Anda akan menemukan serentetan daftar buku musik berbahasa
Indonesia yang pernah terbit di Indonesia dalam sedikitnya lima dekade
(1960-an hingga 2015). Tentu saja tidak bisa dipastikan bahwa daftar
ini telah lengkap. Namun, sungguh menarik sekali menyimak perjalanan
(pemikiran) musik ini. Selain sebagai panduan untuk keperluan
pencarian referensi yang terkait dengan kebutuhan Anda, katalog ini
juga menjadi saksi sejarah dengan aksen garis merah tebal: Bahwa kita
masih harus lebih produktif lagi di masa yang akan datang!”

Penulis: Olga Felicianata dan Erie Setiawan

Ukuran buku: 15×23 cm
Tebal: 60 halaman
Cetakan pertama: November, 2016

Penerbit: AMT Publisher

Harga: Rp. 35.000,- (baru, di luar ongkos kirim)

Cover Design - MEMBACA MUSIK DARI MASA KE MASA#2.cdr

Erich Fromm’s The Heart of Man: Its Genius for Good and Evil (1964)

November 12, 2016 § Leave a comment

Front cover. Click to enlarge.

Front cover. Click to enlarge.

A study of the polarity of possible orientations on the basis of character and the first major statement Erich Fromm’s attempts to dissect what he saw as a further fundamental orientation present in western societies – a fascination with death and things (objects).

« Read the rest of this entry »